Copenhagen, - Efforts to protect tropical forests in the world by paying the countries that have forests to sustain its existence suspended. World leaders failed to approve the agreement binding in konerensi climate change in Copenhagen, Danish which ended yesterday.

In fact, burning trees for the provision of land or livestock and plantation forest logging for timber has resulted in 20 percent of greenhouse gas emissions world. This figure is equivalent to the carbon dioxide produced by all cars, trucks, trains, aircraft, and ships around the world.

Approximately 13 million hectares of forest land harvested each year. This figure is equivalent to the size of the UK or the state of New York, USA. Based on data reported by Eliasch Review, emissions resulting from deforestation is equivalent to the emissions produced by China and the U.S.. Deforestation due to logging, farming, and agriculture has put Indonesia and Brazil as the largest emitter of the third and fourth in the world, after China and the U.S..

"The absence of a binding agreement causes of forest destruction continues, the rights of people whose lives depend on the forest will be protected and not reduced populations of endangered animals," said Stephen Leonard of the Australian Orangutan Project.

Executive Director of the Coalition of Rainforest Nations, Kevin Conrad, saying, REDD, or reduced emissions from deforestation and degradation will only be decided next year. "This is very sad. This means I have to spend one more year ... to come to meetings and talk about the things the same," he said.

However, some parties say, even without the legal framework, REDD memeroleh advantage of the meeting in Copenhagen. At least, world leaders agreed in Copenhagen to raise $ 30 billion U.S. dollars over the next three years, and 100 billion dollars until the year 2020, to help poor countries. Surely some of this money will be used for forestry programs.

"Failure to produce a comprehensive agreement on the forests is very disappointing," said Michael Levi, a senior in the field of energy and environment at the Council on Foreign Relations.

"But if the state could disburse the funds advanced 100 billion dollars each year as directed in the Copenhagen Accord, there is no doubt that this will help efforts to protect forests," he added.

REDD will be financed by rich countries or through the mechanism of carbon trading - a system in which each country will have a platform emissions. This system allows countries that produce emissions below the platform to sell emissions credits to countries that produce emissions exceeding platforms.

Two years ago, Norway announced its commitment to spend U.S. $ 500 million to reduce deforestation on climate change meeting in Bali. "And now, the U.S. has shown his willingness to play a role in the same group," said President of the Union of Concerned Scientists Kevin Knobloch.

Bencana di depan mata

JAKARTA, - Malapetaka akibat pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim mengancam semua makhluk tanpa kecuali. Sebagai salah satu upaya menghindarkan petaka tersebut, mulai hari ini, Senin (7/12), utusan lebih dari 190 negara mulai berunding dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark.

Pada Pertemuan Para Pihak Ke-15 (COP-15) Konferensi Perubahan Iklim PBB (UNCCC) ini akan berlangsung negosiasi untuk mencapai kesepakatan baru sebagai pengganti skema Protokol Kyoto yang akan berakhir masa berlakunya pada 2012. Sebanyak 145 negara meratifikasi Protokol Kyoto yang disetujui pada 1997.

Fenomena pemanasan global, menurut pakar agroklimatologi yang juga reviewer emisi karbon negara-negara maju dalam Annex I, Rizaldi Boer, sudah terjadi di Indonesia.

Pendapat senada dinyatakan Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Edvin Aldrian di Jakarta, Sabtu (5/12).

Menurut Edvin, pemanasan global di antaranya terlihat dari perubahan suhu permukaan di seluruh wilayah di Indonesia.

Berdasarkan data dari BMKG tentang perubahan suhu minimum dan maksimum yang terpantau pada 1980-2002 di 33 stasiun pemantau, kenaikan tertinggi perubahan suhu maksimum di Denpasar, Bali, sebesar 0,087 derajat celsius per tahun. Sementara kenaikan tertinggi perubahan suhu maksimum ada di Polonia, Medan, Sumatera Utara, sebesar 0,172 derajat celsius.

”Besarannya berbeda di setiap kota,” ujar Edvin. Kenaikan suhu merupakan kecenderungan yang sedang dihadapi dunia.

Sejumlah bukti ilmiah menunjukkan, kenaikan suhu global pada abad ke-21 diperkirakan 2-4,5 derajat celsius akibat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.

Di Indonesia, perubahan itu terasa pada panjang pendeknya musim hujan atau kemarau. Secara umum, perubahan iklim berdampak pada musim hujan memendek, sebaliknya musim kemarau semakin panjang.

Di bidang pertanian, hal itu berdampak langsung pada hasil panen. ”Gagal panen dalam sepuluh tahun terakhir kian sering,” kata Rizaldi, yang juga dosen sekaligus Direktur Pusat Pengelolaan Risiko dan Peluang Iklim Kawasan Asia Pasifik (CCROM SEAP) IPB.

Dampak kelautannya, iklim ekstrem mengganggu pelayaran dan nelayan karena badai tropis kian sering. Gelombang tinggi juga kian sering mengganggu nelayan. Nelayan sekarang melaut rata-rata tinggal 200 hari setahun dibandingkan dengan 10 tahun lalu yang bisa 365 hari setahun.

”Nelayan harus tambah ongkos alat dan bahan bakar karena ikan-ikan berenang kian dalam,” kata Direktur Pesisir dan Lautan Departemen Kelautan dan Perikanan Subandono Diposaptono.

Memendeknya musim hujan berbanding terbalik dengan musim kering. Interval kedatangan El Nino pun kian sering menjadi sekali dalam 3-4 tahun, yang semula 7 tahun rentangnya. El Nino akan diikuti musim kering yang panjang yang berpotensi timbulkan kebakaran hutan.

Malapetaka global

Berdasarkan perkiraan sejumlah ahli, suhu Bumi saat ini meningkat 0,5 derajat celsius dari level 150 tahun silam. Kenaikan akan terus meningkat jika tak ada kemauan negara maju menurunkan laju emisi.

Kenaikan muka laut sudah terasa di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Kota Semarang, Belawan (Medan), dan Jakarta merupakan kota terdampak kenaikan muka laut itu, berkisar 5-9,37 milimeter per tahun pada tahun 1990-an. Berdasarkan skenario Panel Internasional Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC), kenaikan suhu Bumi hingga 6 derajat celsius berpotensi menaikkan muka laut hingga 1 meter pada tahun 2100. Puluhan juta penduduk di seluruh dunia akan terancam migrasi karena banjir, kekurangan air, dan iklim ekstrem.

Kondisi Jakarta

Sementara itu, Jakarta hingga kini masih berpredikat sebagai salah satu kota besar penghasil polusi udara terbesar di dunia. Emisi karbon yang dihasilkan kendaraan bermotor dan industri juga besar. Untuk itu, sejak enam tahun terakhir, Jakarta mulai berbenah.

”Perang melawan dampak buruk perubahan iklim dilakukan dengan dua strategi, yaitu adaptasi dan mitigasi. Adaptasi yaitu bagaimana kita berupaya membenahi lingkungan yang mengalami kerusakan dan mitigasi atau pencegahan,” kata Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta Peni Susanti, Minggu.

Menurut dia, beberapa upaya adaptasi, misalnya, dengan penanaman bakau di lahan seluas 344 hektar di pesisir Jakarta Utara, khususnya di kawasan Kapuk. Sementara upaya mitigasi, antara lain, dengan penerapan uji emisi kendaraan bermotor, pemberlakuan hari bebas kendaraan bermotor rutin setiap bulan, kampanye pengelolaan sampah dan mengurangi pembuangan sampah tidak pada tempatnya, serta pembuatan sumur resapan maupun lubang biopori.

Gubernur DKI Fauzi Bowo dalam pertemuan The Asia Pacific Weeks 2009 di Berlin, Jerman, awal Oktober lalu, menekankan, ada banyak hal yang diprogramkan DKI untuk turut melawan dampak perubahan iklim. Program besar yang telah dicanangkan adalah penggunaan bahan bakar gas untuk bus transjakarta dan sebagian bajaj.

Akhir 2009, Jakarta juga menjajaki kemungkinan melebarkan pelayanan bus jalur khusus ke Bekasi dan Tangerang. Pertemuan antarpemerintah wilayah terkait mulai dilakukan. Semua ini dilakukan, kata Fauzi, untuk menyediakan angkutan umum yang nyaman untuk mengurangi emisi karbon.

Perubahan gaya hidup

Anggota Forum Pengembangan Kota Berkelanjutan, Nana Firman, mengingatkan, semua orang sebenarnya berkontribusi pada isu perubahan iklim karena pada setiap aktivitasnya setiap manusia mengeluarkan emisi karbon. ”Mobilitas kita dengan kendaraan itu mengeluarkan emisi karbon karena memakai bahan bakar fosil, bensin. Juga ketika kita membeli barang dan menggunakan barang-barang elektronik. Bahan bakar pembangkit listrik juga bahan bakar fosil, batu bara,” ujarnya.

”Karena kita berkontribusi dan kita menyadari dampaknya, kita harus bertanggung jawab. Untuk itu, kita harus ada niat yang disusul dengan upaya. Upaya ini adalah upaya mengubah perilaku,” ujarnya.

Beberapa perilaku yang bisa diubah demi mengurangi emisi karbon antara lain memilih kendaraan yang lebih kecil emisinya, misal menggunakan kendaraan umum, atau bahkan tanpa mengeluarkan emisi seperti naik sepeda atau jalan kaki.

Ia menyadari, ”Masih banyak PR yang harus dikerjakan karena kesadaran kita bahwa kita berkontribusi pada pemanasan global dan perubahan iklim masih sangat rendah.”

KOPENHAGEN, - Sekretaris Eksekutif Konvensi Badan Dunia untuk Perubahan Iklim (UNFCCC), Yvo de Boer optimistis KTT Perubahan Iklim ke-15 akan menghasilkan kesepakatan internasional yang efektif dan ambisius.

Yvo de Boer dalam konferensi pers di Kopenhagen, Minggu (6/12), mengatakan, dalam waktu kurang dari dua minggu, negara-negara peserta konvensi UNFCCC harus memberikan respons yang memadai untuk tantangan penting dari perubahan iklim.

"Para negosiator sekarang mempunyai sinyal yang terkuat dari para pemimpin dunia untuk membuat proposal negosiasi bisa dilaksanakan dalam aksi," kata de Boer.

Merujuk pada beberapa janji pengurangan emisi yang telah dibuat oleh negara-negara maju dan berkembang pada pertemuan menjelang COP-15, dia mengatakan hal tersebut merupakan momentum politik yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menghasilkan kesepakatan yang ambisius di Kopenhagen.

"Belum pernah selama 17 tahun dalam perundingan iklim terdapat begitu banyak negara-negara yang telah mengonfirmasi janji penurunan emisi bersama," kata petinggi UNFCCC tersebut.

Oleh karena itu, de Boer mengatakan, konvensi di Kopenhagen telah menjadi titik balik respons internasional untuk perubahan iklim.

Ada tiga tahapan aksi bagi pemerintah yang harus dilakukan selama dua minggu konvensi yaitu implementasi yang cepat dan efektif untuk aksi segera pada perubahan iklim, komitmen yang tinggi untuk mengurangi dan membatasi emisi, termasuk pendanaan awal dan komitmen pendanaan jangka panjang, serta satu visi jangka panjang bersama untuk pembangunan rendah emisi di masa mendatang.

Ia mengatakan pada 2010, perlu segera dilakukannya aksi mendesak pada pengurangan emisi, adaptasi dari dampak
yang tidak terhindarkan dari perubahan iklim, pembiayaan yang cukup, teknologi, pengurangan emisi dari penggundulan hutan di negara berkembang (REDD) dan peningkatan kapasitas.

Negara-negara maju akan menyediakan pembiayaan segera untuk memenuhi paling tidak 10 miliar dolar AS per tahun sampai 2012 untuk membantu negara-negara berkembang untuk membuat dan meluncurkan strategi adaptasi dan pertumbuhan rendah emisi segera, serta membangun kapasitas internal.

Pada kesempatan yang sama, negara-negara maju perlu menunjukkan bagaimana keseriusan mereka dalam pembiayaan jangka panjang yang mungkin dan berlanjut, serta bagaimana komitmen jangka panjang mereka.

Ketua Kelompok Kerja Ad-hoc untuk Kerja Sama Jangka Panjang UNFCCC (Chair of the Ad Hoc Working Group on Long-term Cooperative Action under the Convention/AWG-LCA), Michael Zammit Cutajar mengatakan, KTT Perubahan Iklim di Kopenhagen harus sukses mengantarkan janji UNFCCC, yang akan mengubah jalan semua negara melakukan aksi dan kerjasama untuk menangani perubahan iklim.

Berdasarkan Panel Antarpemerintah pada Perubahan Iklim (the Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC), pengurangan emisi bersama oleh negara-negara maju antara 25 - 40 persen dari emisi level 1990 pada 2020 untuk mengamankan dari dampak paling buruk dari perubahan iklim, dan target penurunan emisi paling tidak 50 persen pada 2050.

Meski IPCC telah menyatakan skenario tersebut, diprediksi hanya ada 50 persen peluang untuk menghindari konsekuensi bencana yang paling mengerikan akibat perubahan iklim.

Sedangkan Ketua Kelompok Kerja sama Komitmen Kedua Protokol Kyoto (the Ad Hoc Working Group on Further Commitments for Annex I Parties under the Kyoto Protocol), John Ashe mengatakan, ada dua hal yang perlu dilakukan yaitu perlunya peningkatan level komitmen negara-negara maju sesuai target masing-masing negara.

Selain itu dibutuhkannya suatu cara dan aturan yang dapat memantau secara cepat dari pencapaian target negara-negara maju, seperti mekanisme pasar karbon, serta penggunaan lahan dan pengalihan fungsi lahan (LULUCF).

KTT Perubahan Iklim yang digelar pada 7 - 18 Desember di Kopenhagen, Denmark, diperkirakan akan diikuti oleh lebih dari 15.000 partisipan, termasuk delegasi dari 192 negara. Sekitar 60 kepala negara termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Amerika Barrack Obama, Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Nikolas Zarkosky bakal menghadiri KTT Perubahan Iklim yang ke-15 tersebut.

taukah anda listrik???

JAKARTA, - Tahukah Anda? Konsumsi listrik di Jakarta pada tahun 2007 hampir mencapai 23 persen total konsumsi listrik seluruh Indonesia. Sedangkan di akhir tahun 2005 cadangan listrik di Jawa-Bali hanya tinggal 120 megawatt padahal idealnya cadangan minimum listrik yang harus tersedia sebesar 600 megawatt.

Secara global, sektor ketenaga listrikan telah menyumbang hampir 40 persen emisi karbon. Data di atas dipaparkan dalam papan-papan di zona listrik Green Festival Jakarta, Minggu (5/12) yang digelar di Parkir Timur Senayan.

Selain memaparkan kondisi ketenaga listrikan saat ini, zona listrik juga memperlihatkan data dari mana listrik berasal, grafik penggunaan listrik di Jawa, Madura, dan Bali yang menunjukkan penggunaan listrik terbesar terjadi pada pukul 18.00-20.00 serta beberapa tips menghemat listrik misalnya menghemat listirk pada kulkas, kipas angin, pendingin ruangan dan televisi.

Untuk menghemat listrik pada kulkas misalnya, dengan menutup pintu kulkas dengan rapat atau tidak memasukkan makanan atau minuman panas ke dalam kulkas. Selain memaparkan data, zona listrik Green Festival juga memutar video kartun lingkungan yang menyerukan untuk mengganti bohlam lampu dengan yang lebih hemat.

Tersedia pula informasi mengenai sumber energi alternatif seperti tenaga angin, panas bumi, air, energi surya, dan geothermal. Disampaikan bahwa energi geothermal merupakan energi yang dihasilkan dari interaksi panas batuan dengan air yang mengalir di sekitarnya. Interaksi tersebut kemudian menghasilkan uap yang dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik.

Zona listrik adalah salah satu zona yang tersedia di area Green Festival 2009 yang digelar di Parkir Timur Senayan Jakarta 5-6 Desember. Jumlah pengunjung yang memadati zona ini cukup banyak mulai dari anak-anak, remaja hingga orangtua.

Green Festival 2009 merupakan kampanye tahunan isu pemanasan global diselenggarakan Green Initiative Forum di Parkir Timur Senayan Jakarta, 5-6 Desember. Tujuannya untuk membangun kesadaran masyarakat dan menyebarluaskan isu pemanasan global.

Racun asap kendaraan

JAKARTA, - Tahukah Anda, asap kendaraan bermotor menyumbang 26 persen dari total emisi yang dihasilkan di Indonesia dan menyebabkan 60-90 persen dari seluruh polusi di negara-negara industri?

Menurut data Bappenas, setiap kali kendaraan mengeluarkan asap, sekitar 1.000 unsur beracun yang terkandung di dalamnya turut mengotori udara. Demikian informasi mengenai asap kendaraan yang dipaparkan di papan kuning zona kendaraan Green Festival, Minggu (6/12) di Parkir Timur Senayan Jakarta.

Unsur-unsur beracun yang terkandung asap kendaraan seperti karbon monoksida, karbon dioksida, partikulat, ozon, timbel, dan sulfur dioksida pada akhirnya dapat menimbulkan penyakit seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Menurut data Bappenas, pada tahun 2005 penderita rawat inap akibat ISPA mencapai 125 ribu orang. Lebih mengenaskan lagi, sekitar 6.000 orang meninggal akibat ISPA di tahun 2005.

Zona kendaraan merupakan salah satu zona yang digelar di Green Festival untuk memperkenalkan kepada pengunjung bahaya asap kendaraan. Selain mendapat beragam informasi, di zona ini pengunjung dapat mencoba bersepeda yang dinilai sebagai alat transportasi ramah lingkungan karena tidak mengeluarkan asap.

Menurut informasi di papan kuning lainnya, bersepeda selama 20 menit per hari dapat menghemat 1,2 liter bahan bakar minyak. Untuk itu, disarankan jika ingin bepergian jarak dekat, gunakanlah sepeda.

Seperti diberitakan sebelumnya, Green Festival 2009 memiliki beberapa zona yakni zona kendaraan, zona air, zona sampah, zona listrik, dan zona pohon. Masing-masing zona memberikan informasi terkait zona yang dimaksud.

Green Festival 2009 sendiri merupakan acara kampanye tahunan yang bertujuan menyebarluaskan sekaligus menyadarkan masyarakat akan bahaya pemanasan global. Digelar oleh Green Initiative Forum di Parkir Timur Senayan Jakarta, 5-6 Desember, Green Festival 2009 dipadati pengunjung di hari keduanya.

lingkungan hidup

JAKARTA, - Sekitar enam miliar orang di dunia menggantungkan oksigennya dari hutan dunia yang luasnya hanya 30 persen dari seluruh total daratan bumi. Di Indonesia saja, menurut data Statistik Kehutanan Indonesia, di tahun 2007 area hutan Indonesia sekitar 133 juta hektar dari 191 juta hektar luas daratan.

Sedangkan di Amerika, luas hutannya hanya 303 juta hektar dari 916 juta hektar total luas daratannya.

Informasi mengenai perbandingan luas area hutan dan luas negara tersebut dipaparkan pada papan hijau zona hutan Green Festival 2009 di Parkir Timur Senayan Jakarta, Minggu (6/12).

Untuk area hutan di Indonesia, menurut informasi di papan zona hutan, Indonesia memiliki kawasan hutan yang sangat luas, yakni sekitar 133,7 juta hektar yang luasnya lebih besar dibandingkan hutan di Inggris, Jerman, Perancis, dan Finlandia.

Indonesia juga memiliki hutan bakau atau mangrove terluas di dunia, yakni sekitar 19 persen dari total luas hutan bakau di dunia ada di Indonesia pada tahun 2005. Sementara di tahun 2008, menurut data Kementrian Lingkungan Hidup, luas hutan bakau di Indonesia sekitar 9,2 juta hektar.

Dari 9,2 juta hektar hutan bakau yang ada, menurut data di papan zona pohon, hanya 2,5 juta hektar yang berkondisi baik. Sisanya, 4,5 juta hektar rusak sedang, dan 2,1 juta hektar dinyatakan rusak. Kondisi tersebut patut disayangkan. Pasalnya, tanaman bakau sangat berguna menahan abrasi dan gelombang tsunami.

Disampaikan pula di papan zona pohon, secara umum pohon memiliki banyak fungsi. Pohon mampu menyerap karbon dioksida, mengeluarkan oksigen, dan menurunkan suhu udara dengan uap air dari daunnya. Satu pohon mampu memberi oksigen untuk 18 orang per tahun. Dalam setahun, satu pohon bisa menyerap karbondioksida sebanyak yang dihasilkan mobil yang berjalan sejauh 14 km.

Selain itu pohon turut meningkatkan kualitas air dengan memperlambat dan menyaring air hujan serta menjaga tanah. Akar pohon mampu menjaga tanah tetap stabil dan mencegah erosi. Zona Pohon Green Festival 2009 memberikan pendidikan lingkungan kepada pengunjung, terutama yang berkaitan dengan pohon.

Di zona ini, juga terdapat "Wish Tree" berupa sebatang pohon tempat pengunjung menggantung harapan-harapan mereka yang ditulis di sebuah kertas. Seperti yang diberitakan sebelumnya, Green Festival 2009 menggelar beberapa zona lingkungan seperti zona pohon, air, kendaraan, listrik, dan sampah.

Green Festival merupakan acara kampanye lingkungan yang digelar Green Initiative Forum di Parkir Timur Senayan Jakarta, 5-6 Desember dengan tujuan menyebarkan sekaligus menyadarkan masyarakat bahaya pemanasan global.

GREEN FESTIVAL

INDONESIA — Apa itu perubahan iklim? Sebuah pernyataan mengklaim bahwa isu tersebut amat elitis. Pengertian tentang iklim saja masih banyak dikelirukan dengan cuaca. Apalagi istilah-istilah seperti ”emisi” dan ”gas rumah kaca”. Yang terakhir sering dikelirukan dengan ”bangunan dengan jendela kaca”. Pernyataan itu pernah keluar dari seorang pejabat yang mengurus lingkungan dan dari seorang guru Biologi. Mengenaskan...?

Gas rumah kaca—istilah yang dilekatkan pada sejumlah gas yang berfungsi seperti ”rumah kaca” pada istilah pertanian—yaitu rumah kecil dengan atap kaca yang berfungsi menstabilkan suhu dan cahaya matahari agar tanaman tumbuh optimal.

Gas rumah kaca dalam isu perubahan iklim adalah jenis gas tertentu (ada enam jenis) yang dikeluarkan (istilah khususnya adalah ”emisi”) ke atmosfer sebagai akibat dari berbagai aktivitas manusia. Gas rumah kaca inilah yang kemudian memerangkap suhu dari radiasi panas matahari sehingga suhu Bumi meningkat.

Semua pengetahuan itu tersaji di Green Festival 2009 secara gamblang dan dikemas sedemikian rupa sehingga pengunjung terhibur. ”Ini upaya bagus sekali untuk meningkatkan kesadaran (awareness) masyarakat soal perubahan iklim dan pemanasan global,” ujar tokoh lingkungan Erna Witoelar saat mengunjungi Green Festival pertama tahun lalu.

Awalnya adalah pengenalan, kemudian penyadaran. Selanjutnya adalah keputusan mengubah perilaku untuk menghambat laju pemanasan global. Perilaku setiap individu pun perlu disesuaikan untuk beradaptasi dengan kondisi alam yang sudah berubah. Semua itu bisa didapat pengunjung pada Green Festival hari Sabtu dan Minggu ini (5-6 Desember 2009).

Mantan Wakil Presiden AS Al Gore, peraih Nobel Perdamaian 2008, di Melbourne, Australia, beberapa waktu lalu saat pelatihan presenter perubahan iklim, mengatakan, ”Saya bermimpi semua orang di dunia paham perubahan iklim sehingga pemerintah dan politisi bisa ditekan oleh masyarakatnya untuk mengambil keputusan tepat guna menghentikan laju pemanasan global.”

pengolahan sampah

JAKARTA, — Menghilangkan tumpukan sampah dengan membakarnya bukanlah cara yang tepat. Jika sampah dibakar di bawah suhu 600 derajat celsius, pembakarannya dapat menghasilkan senyawa dioksin dan furan yang menyebabkan kanker. Namun, tumpukan sampah jika dibiarkan juga dapat menghasilkan gas metana yang dua kali lebih berbahaya dari karbon dioksida. Satu ton tumpukan sampah padat dapat menghasilkan 62 meter kubik gas metana. Lantas apa cara yang tepat mengatasi sampah?

Dalam petunjuk yang tertera di papan hijau zona sampah Green Festival 2009 di Parkir Timur Senayan, Minggu (6/12), sampah bisa diatasi menggunakan rumus 5R yakni, reduce, reuse, recycle, replace, dan rethink. Dengan reduce atau mengurangi sampah, kita turut mengurangi kemungkinan banjir. Dengan reuse atau menggunakan kembali barang-barang seperti menggunakan kembali kantong belanjaan, hal itu dapat memperpanjang masa pakai sampah.

Selanjutnya, lakukan recycle atau mendaur ulang sampah untuk dijadikan barang baru seperti daur ulang kertas atau plastik, atau memanfaatkan plastik kemasan deterjen sebagai pot tanaman. Kemudian, replace, yaitu mulai mengganti barang sekali pakai dan barang yang tidak ramah lingkungan dengan barang yang dapat didaur ulang. Misalnya mengganti sendok plastik dengan sendok aluminium. Terakhir, lakukan rethink, yakni memikirkan kembali keputusan kita dalam membeli atau menggunakan barang. Pada saat berbelanja, sebaiknya memilih barang yang tidak boros kemasan dan ramah lingkungan seperti barang yang dikemas karton.

Selain informasi mengenai 5R, masih banyak informasi lain seperti jenis-jenis kompos dan cara pengelolaan sampah kering dan basah di zona sampah Green Festival 2009. Seperti yang diberitakan sebelumnya, Green Festival 2009 diselenggarakan oleh Green Initiative Forum di Parkir Timur Senayan Jakarta, 5-6 Desember.

KOPENHAGEN, - Konferensi Perubahan Iklim PBB 2009 dibuka resmi di tengah suhu kota Kopenhagen, Denmark, yang hampir 0 derajat. Di hadapan delegasi dari 192 negara, Direktur Eksekutif UNFCCC Yvo de Boer membuka pidatonya dengan kisah anak laki-laki Nyi Lay.

Anak laki-laki berusia 6 tahun itu harus kehilangan ayah, ibu, dan saudaranya akibat badai tropis. Kenaikan suhu global, yang saat ini sudah terjadi, di antaranya meningkatkan terjadinya badai tropis dengan bahaya lebih besar. Jutaan jiwa di kawasan pesisir pantai berada dalam bahaya akibat badai tropis ataupun kenaikan muka laut, seiring dengan melelehnya gunung es di kawasan kutub.

”Konferensi bisa disebut sukses hanya bila ada kesepakatan signifikan dan tindakan segera, sesaat setelah penutupan,” kata Yvo, Senin (7/12) di Kopenhagen, saat pembukaan. Sebelum pembukaan sejumlah LSM internasional menggelar spanduk mengingatkan pentingnya mendahulukan kepentingan dunia di atas kepentingan politik sesaat.

Seusai pembukaan aliansi organisasi masyarakat Tcktcktck menyerahkan petisi yang ditandatangani 10 juta orang. Mereka berseru kepada para pemimpin dunia untuk mewujudkan kesepakatan iklim yang adil, ambisius, dan mengikat.

Perdebatan panas

Perdana Menteri Denmark Lars Lokke Rasmussen menyatakan bahwa para delegasi memiliki beberapa perbedaan cara pandang terhadap kerangka perjanjian. Dua pekan mendatang akan diisi perdebatan panas delegasi.

Ia mengajak para delegasi mampu melewati hari-hari itu dan mencapai hasil yang bisa diterima semua pihak sekaligus kuat dan ambisius. ”Sebuah perjanjian yang efektif dan operasional,” kata dia.

Menurut Yvo, setidaknya dibutuhkan dana sebesar 10 miliar dollar AS sebagai awal pendanaan mitigasi, adaptasi, alih teknologi, dan pembangunan kapasitas di negara-negara berkembang. Kemauan politik harus dapat diterjemahkan dalam persoalan riil di atas.

Bencana mengancam

Ketua Panel Ahli Antarnegara untuk Perubahan Iklim (IPCC) Rajendra Kumar Pachauri menyebutkan, data ilmiah yang dikaji ribuan ahli dari seluruh dunia menemukan fakta, kenaikan suhu global telah menyebabkan kenaikan muka laut 17 sentimeter saat ini akibat kenaikan suhu rata-rata global 0,74 derajat celsius.

Artinya, negara-negara seperti Banglades dan negara pulau-pulau kecil dengan daratan 1-2 meter di atas permukaan laut berada dalam ancaman terendam. Semua bahaya ini disebabkan pola pembangunan yang rakus emisi sejak era kelahiran industri.

Pachauri secara khusus memuji Denmark sebagai laboratorium mitigasi perubahan iklim. Sejak dikenalkan pertama kali tahun 1980 lalu, turbin angin Denmark menghasilkan listrik 100 kali lipat.

Angka penjualan industri manufaktur turbin angin Denmark terus naik. Hal itu menunjukkan manfaat langsung ekonomi dari pembangunan ramah lingkungan rendah emisi.

Konferensi dua pekan ini akan dihadiri 110 kepala negara dan kepala pemerintahan, termasuk Presiden Barack Obama, yang tiga hari lalu mengubah jadwal kedatangannya menjadi tepat saat negosiasi diperkirakan kritis, 18 Desember, bersamaan dengan kehadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

”Kehadiran mereka merefleksikan determinasi politis untuk mengatasi perubahan iklim. Juga mewakili peluang amat besar yang jangan sampai terlewat,” kata Lars Lokke Rasmussen. Kedatangan ratusan kepala negara dan pemimpin pemerintahan diharapkan menghasilkan kesepakatan yang efektif.

Hingga kini negosiasi masih dibayang-bayangi kebuntuan terkait komitmen negara maju mengenai jumlah emisi yang akan diturunkan.

Kelompok organisasi nonpemerintah yang mengamati negosiasi iklim menyebutkan, negara maju harus menurunkan emisinya sebesar 40 persen pada tahun 2020 dari level emisi tahun 1990. Mereka juga harus menyiapkan pendanaan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sebesar 195 miliar dollar AS pada tahun 2020.

Sementara itu, emisi dari perusakan hutan dan degradasi lahan dapat ditekan menjadi 0 persen pada tahun 2020 dengan bantuan pendanaan 35 miliar dollar AS. Persoalan pendanaan ini pula yang diperkirakan akan memakan waktu debat.

mobil listrik

KOPENHAGEN, – Denmark berniat menjadi negara dengan tingkat emisi karbon netral pada tahun 2050 mendatang. Visi ini bukan sembarang visi. Pemerintahan dibawah kepemimpinan Lars Lokke Rasmussen itu sudah menyiapkan segala perangkat untuk mendukung terwujudnya impian itu. Salah satunya menyosialisasikan penggunaan mobil bertenaga listrik. Di sela-sela pelaksanaan Konferensi PBB tentang perubahan iklim di Kopenhagen, Kompas.com bersama Jesper, seorang karyawan salah satu produsen mobil sempat mengunjungi Danish Design Centre, di pusat kota Kopenhagen.

Perusahaan tempat Jesper bekerja menyediakan layanan gratis bagi para tamu COP15 untuk merasakan berkendara dengan mobil bertenaga listrik di seputar kota Kopenhagen. Saat ini, menurut dia, masyarakat Denmark menunjukkan antusiasme tinggi terhadap penggunaan mobil ramah lingkungan ini. Hanya saja, mobil yang digunakannya untuk berkeliling kali ini, masih dalam tahap sosialisasi dan akan dipasarkan di Denmark pada tahun 2011 mendatang. Saat ini, terang Jesper, ada satu model mobil bertenaga listrik yang telah digunakan di Denmark. “Buddy car”, begitu sebutannya. Mobil ini hanya muat untuk dua orang yaitu supir dan satu penumpang lainnya.

“Pemerintah mengeluarkan kebijakan berupa layanan eksklusif bagi pengguna mobil listrik. Salah satunya, parkir gratis,” terang Jesper, Selasa (8/12/2009), saat mengantarkan ke Danish Design Centre, Kopenhagen.

Menurutnya, keistimewaan-keistimewaan ini salah satunya untuk mempersuasi warga Denmark agar mau menggunakan mobil tersebut. Sedikit berpromosi, Jesper mengatakan, mobil yang tengah disosialisasikan perusahaannya bermuatan lebih banyak, empat orang dan terlihat seperti mobil pada umumnya. Berbeda dengan “Buddy Car” yang terlihat berbeda.

“Anda bisa merasakan kan, mobil ini berjalan seperti mobil normal dan tanpa suara. Saat ini sudah banyak masyarakat Denmark yang menyatakan ketertarikannya dengan mobil ini. Kalau lebih banyak yang menggunakan mobil seperti ini, maka saya yakin kondisi lingkungan akan semakin baik” ujarnya.

Jesper kemudian menjelaskan, mobil bertenaga listrik akan lebih hemat penggunaannya untuk perjalanan dalam kota. Untuk kecepatan 120 km per jam, tenaga listrik akan bertahan selama 4 jam. Nah, bagaimana dengan sistem pengisian tenaga listriknya? “Sama seperti Anda menge-charge handphone,” kata Jesper.

Oleh karena itu, dalam waktu dua tahun ini tengah disiapkan infrastruktur dan layanan yang akan melengkapi kebutuhan para pengguna mobil listrik. Di Danish Design Centre, juga dipamerkan sebuah prototype mobil listrik. Disini dijelaskan, mengapa penggunaan energi listrik jauh lebih berkualitas dibandingkan energi lainnya. Hal ini merupakan salah satu dukungan dari perusahaan-perusahaan di Denmark untuk mewujudkan program “Neutral Carbon Country” dari pemerintahan negara Skandinavia itu.

;;
EARTH DAY for GLOBALWARMING | Template by - Abdul Munir - 2008