Showing posts with label gempa. Show all posts
Showing posts with label gempa. Show all posts

The phenomenon of the earthquake has occurred since the Earth's surface is formed. To understand it, developed seismology, part of earth science. However, until now the earthquake has not also be expected that always threatens the life on it. Research continues to run.

Beginning last week came the rumors will be an earthquake measuring 8.5 on the Richter scale on Saturday, October 24, 2009. Shock mentioned leads to Jakarta.

News that mentioned the Meteorological Agency, Climatology, and Geophysics (BMKG) had been denied the Head BMKG, October 19. This issue has no clear scientific basis for tectonic earthquakes can not be scientifically predicted.

The fact that Jakarta on "safe" course. Although the earthquake occurred in the morning (at 10:09 GMT), the scale is only 5.1 SR and only slightly shook Sukabumi.

Then there was another earthquake in the evening (21:40 GMT) in the Banda Sea. Relatively strong earthquake (7.3 SR) with a center at a distance of 209 kilometers northwest of Saumlaki, Maluku. Because of the earthquake center, convulsions was up to Ambon and Merauke.

So far, the science of human-controlled Terrestrial new limited earthquake records, both the time, location, and intensity. There are currently no earthquake prediction techniques that are categorized as developed and tested scientifically.

However, efforts in that direction longer continue to do. One of the monitoring technique using electromagnetic waves (EM) that emanated from the bowels of the Earth. This research has been pioneered Varotsos, geophysical experts from the University of Athens, Greece, in 1884.

According to him, this technique has good prospects to predict earthquakes because the level of success in predicting the earthquake when it has reached 63 percent.

Seeing this prospect, some developed countries, including Japan and Taiwan, which is often shaken by earthquakes, such as Indonesia, recently intensified to the development of this technique, not only to observe the distribution of EM in the Earth's lithosphere layer, but also in the atmosphere to the ionosphere.

EM waves are used to indicate the occurrence of an earthquake because of plate movement and the acceleration of the magma rock formations due to changes in the Earth's stomach causing electromagnetic wave surge. These anomalies appear before the earthquake happened.

Digging science earthquake monitoring of the two countries, Djedi S Widarto, researchers from the Center for Research Geoteknologi Indonesian Institute of Sciences, recently revealed the results of his research in Liwa, an area on the west coast of Lampung, Bengkulu border which was struck by massive earthquake a few years ago.

Sign of the emergence of tectonic earthquake can be seen two to five days before the incident, indicated the existence of electromagnetic wave anomalies in the Earth's surface. "There is an electromagnetic surge around 5 milivolt before the big earthquake in the area," he explained. This deviation observed even in the ionosphere layers that are 300 to 400 kilometers above the Earth's surface.

"With the development of sensors and instrumentation techniques, monitoring of electromagnetic anomalies in the next 5-10 years can be used as a parameter to predict tectonic earthquake," said Djedi, geophysics doctorate from Kyoto University.

As a result of plate movement, cracks occur which affect the gravity and magnetic minerals in the Earth so that the force destabilizing the electromagnetic field. "This disturbance could get a radius of 400 kilometers above Earth's surface, the layer of the ionosphere," said Djedi, who completed the research at the Institute of Space Science National Central University, Taiwan.

Meanwhile, researchers from Lapan, Sarmoko Saroso, who conducted the study of electromagnetic anomalies at the same institute, obtained the data of EM anomalies when an earthquake happens in Aceh, 26 December 2004. The data is recorded at the same time in the four-station global positioning system (GPS), which is in Medan, Singapore, Myanmar, and India.

Pascagempa Aceh, the experts from both countries agreed to establish cooperation further research, involving research institutions in Indonesia, LIPI and the Institute of Space and Aviation Agency.

Electromagnetic measurements made using GPS network, in addition to the magnetometer instrument, the sensor electrodes geolistrik, and binoculars corona. This system is equipped with tools for data telemetry in real time. Research in Liwa in 2005 that electromagnetic waves to detect spikes as an indication of magnitude 5.2 tectonic earthquake on SR 12 days before the incident.

Asperitas

In addition to electromagnetic wave measurement techniques, the Japanese began researching asperitas (asperity), the level of surface roughness on the subduction zone plate with seismograph system. "By knowing the surface roughness, can be known to the deceleration motion until penunjaman 'locked' and then off or menggelosor," said Eko Yulianto, who won a doctoral geology from the University of Hokkaido, Japan.

Yoshiko Yamanaka and Masayuki Kikuchi of the Earthquake Research Institute University of Tokyo examined the characteristics of surface roughness (asperity) plates, with learning resources in the area kegempaan or antarlempeng subduction zone off the coast of Tohoku District, northeastern Japan.

The study, published in 2003 is based on regional seismic data for more than 70 years ago. They found three categories of distribution patterns in the Tohoku asperitas plates, are distinguished at the level of roughness and the resulting kegempaan.




Lokasi Gempa berkekuatan 7,6 SR, di Sumatera Barat yang terjadi tanggal 30 September 2009, termasuk gempa yang besar, dan lebih besar dibandingkan gempa yang terjadi beberapa waktu lalu di Tasik Malaya Jawa Barat, kerusakan yang diakibatkan gempa ini sama seperti gempa Yogya beberapa tahun lalu berikut peta lokasi gempa:

Lokasi : 0.789°S, 99.961°E

Sumber Gempa :

45 km (30 miles) WNW of Padang, Sumatra, Indonesia
220 km (135 miles) SW of Pekanbaru, Sumatra, Indonesia
475 km (295 miles) SSW of KUALA LUMPUR, Malaysia
960 km (590 miles) NW of JAKARTA, Java, Indonesia

Peta Lokasi Gempa Sumatera barat

Peta Lokasi Gempa Sumatera barat

peta lokasi gempa sumatera barat

peta lokasi gempa sumatera barat


Anda juga bisa Lihat peta gempa di Google Map.

—————

Kitasemua berdoa, semoga saudara- saudara kita yang berada di sumatera barat, khususnya daerah2 yang mengalami bencana paling parah, agar diberikan kekuatan oleh Allah, dan senantiasa diberikan keasabaran, amii.…......n!!!!!

—————-

FOTO-FOTO DAMPAK GEMPA:


gempa sumatra dan gempa tasik malaya indonesia.

Keampuhan sistem deteksi dengan menggunakan sistem radar kembali dibuktikan pada penanganan bencana gempa Padang, Sumatera Barat. Selama ini aplikasi teknik deteksi radar sudah dilakukan pada pemantauan cuaca serta lalu lintas penerbangan dan pelayaran.

Belakangan radar digunakan dalam pencarian situs purba di bawah tanah dan pencarian obyek penting yang terpendam di bawah tanah.

Pada bencana gempa Padang akhir September lalu banyak bangunan bertingkat yang ambles sehingga memerangkap beberapa orang di bawah reruntuhannya. Untuk mencari mereka yang masih dalam kondisi hidup diterapkan alat yang disebut detektor kehidupan (life detector). Pencarian dalam misi penyelamatan pascabencana dilakukan khususnya dalam lingkungan yang sulit dan pada lokasi yang tertimbun dalam.

Menurut Emi Frizer, senior SAR Instructor di Basarnas yang mengoperasikan alat tersebut di Padang, alat buatan Meksiko ini baru pertama kali digunakan di Indonesia sejak enam bulan terakhir.

Sebelum digunakan di Padang, detektor ini digunakan untuk mencari korban yang tertimbun longsoran di Tasikmalaya dan Cianjur, Jawa Barat, saat kawasan itu dilanda gempa.

”Pada pengoperasian di Tasikmalaya selama sembilan hari alat tersebut berhasil menyelamatkan sekitar tiga orang dari dalam rumahnya yang tertimbun longsoran,” ujar Emi.

Namun, Emi menyayangkan keberhasilan pendeteksian korban hidup yang terjebak dalam reruntuhan bangunan di Hotel Ambacang dan beberapa gedung lain yang runtuh tidak diikuti dengan evakuasi yang baik sehingga akhirnya nyawa mereka tidak terselamatkan.

”Penggunaan alat-alat berat dalam mengangkat puing, getarannya justru menggeser tumpukan puing bangunan sehingga mengimpit mereka,” ujar Emi.

Sementara itu, menurut Gagah Prakosa, Kepala Humas Basarnas, keterbatasan alat juga membuat mereka yang terpantau di bawah puing akhirnya meninggal. Pembongkaran reruntuhan bangunan yang memerangkap korban di Hotel Ambacang memakan waktu sekitar delapan jam. Padahal saat hari pertama life detector memantau, ada empat orang yang masih hidup.

Aplikasi ”life detector”

Sistem deteksi radar ini digunakan pada operasi pencarian korban yang masih hidup, tidak hanya yang dilanda gempa bumi dan tanah longsor, tetapi juga investigasi tindak kriminal di konstruksi bawah tanah.

Sistem deteksi ini memadukan teknologi radar pada kanal gelombang ultralebar dan teknologi biomedicine. Dengan penetrasi yang kuat, alat ini mampu melacak karakter kehidupan, seperti napas dan gerakan tubuh, secara tepat mengetahui jarak dan kedalaman jasad hidup yang terkubur, serta memiliki kemampuan tinggi untuk mengatasi interferensi atau gangguan sinyal.

Dibandingkan dengan teknologi deteksi menggunakan frekuensi audio atau inframerah optis, alat ini tidak terpengaruh oleh interferensi suhu lingkungan, obyek panas, dan suara.

Radar pendeteksi kehidupan telah dikembangkan untuk mendeteksi posisi korban hidup secara cepat dan tanpa dibatasi kondisi geografi, seperti reruntuhan, asap, dan daerah pertambangan yang kolaps serta kondisi korban, seperti terluka atau pingsan.

Sistem detektor ini terdiri dari bagian utama dan tampilan layar sistem pengontrol. Bagian utama sistem radar terdiri dari antena, pemancar, penerima sinyal, pengatur awal dan pengontrol sinyal, serta sistem daya. Pada dasarnya bagian ini menangani gelombang elektromagnetik dan komunikasi data. Adapun sistem pengontrol mengaktifkan konsol remote tanpa kabel dan bagian utama radar dengan menampilkan hasil deteksi radar.

Dijelaskan Emi, dalam pengoperasiannya, alat ini harus dibebaskan dari keberadaan manusia pada radius 30 kaki atau 9 meter. Adapun kedalaman lokasi yang dapat terpantau berkisar 3 meter hingga 6 meter.

Alat berukuran 60 x 40 sentimeter dan setinggi 20 sentimeter ini mampu memantau korban berdasarkan gerakan tubuh dan detak jantung hingga kedalaman 6 meter. Adapun napas terpantau hingga kedalaman 3 meter.

Lama gelombang untuk merambat hingga mencapai obyek tergantung dari kekerasan media yang menutupi. Untuk media beton, maksimum waktu yang diperlukan 120 detik. ”Bila dalam 120 detik layar monitor pada alat seukuran PDA atau telepon seluler yang dipegang operator tidak menunjukkan hasil, itu artinya obyek tidak terdeteksi atau terjangkau alat ini,” jelasnya.

Saat ini alat tersebut dikembangkan oleh beberapa negara, bukan hanya negara maju, melainkan juga negara berkembang. Selain Meksiko, di pasaran juga ditemukan life detector buatan China dan Singapura.

INDONESIA— Dari hasil kajian Pusat Mitigasi Bencana Institut Teknologi Bandung secara mendalam terhadap sumber-sumber gempa, baik subduksi (pertemuan lempeng), maupun shallow crusal (patahan dangkal) ditemukan patahan-patahan baru yang belum terdeteksi secara spesifik dalam peta zonasi gempa pada SNI-03-1726-2002.

"Ditemukan sumber-sumber gempa di zona Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara," ungkap Kepala Pusat Mitigasi Bencana ITB I Wayan Sengara saat diskusi di Kantor BPPT Jakarta, Selasa (21/7).

I Wayan menjelaskan, sumber-sumber gempa subduksi Sumatera yang ditemukan yaitu di daerah Andaman, Aceh-Siemelue, Nias, Kepulauan Batu, Mentawai, Bengkulu, dan Sunda. Adapun untuk sumber gempa shallow crusal di wilayah Jawa dan Nusa Tenggara, yaitu patahan Lembang, patahan Cimandiri, Baribis, Opak, Doang, Sepanjang, Kangean, Flores, serta patahan-patahan lainnya di sekitar zona Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara.

"Tiga patahan daerah Jawa, yaitu Cimandiri, Lembang, Opak, Baribis diperkirakan 10 persen kemungkinan terjadi gempa dalam waktu 50 tahun ke depan dengan kekuatan gempa relatif medium," ucapnya.

Pusat Mitigasi Bencana ITB juga memberikan rekomendasi jangka pendek untuk penyempurnaan peta zonasi gempa, yaitu menyelesaikan dan menyempurnakan keseluruhan hasil analisis dari berbagai sumber gempa untuk wilayah Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara serta melakukan analisis sejenis untuk wilayah Indonesia Timur yang meliputi blok Irian dan blok Sulawesi-Kalimantan.

"Untuk jangka menengah, melakukan penelitian terhadap patahan-patahan yang dicurigai aktif," ujarnya.

Adapun jangka panjang, tambah I Wayan, memasang lebih banyak GPS monitoring pada patahan-patahan aktif sepanjang pulau di Indonesia untuk mendapatkan informasi data kecepatan pergerakan lempeng dan patahan.

"Langkah lain, mempercepat pelaksanaan pemasangan jaringan strong-motion accelerometer untuk menangkap getaran gempa kuat dari berbagai sumber gempa," ungkapnya.

Semua rekomendasi tersebut, kata dia, untuk masukan dalam perbaikan peta zonasi gempa yang masih mengacu pada peta SNI tahun 2002 agar seluruh infrastruktur yang akan dibangun dipersiapkan tahan gempa. "Kita berharap akhir tahun ini peta baru selesai dan diharapkan dilakukan penyempurnaan peta gempa secara berkala setiap 5 tahun sekali,"

;;
EARTH DAY for GLOBALWARMING | Template by - Abdul Munir - 2008